Pengorbanan Emak
Setelah ayahku meninggalkan kami berlima. Setiap hari kami harus pulang ke kampung halaman. Setiap hari bolak balik rumah-sekolah-kampung halaman ayahku. Nenek dan kakek sangat khawatir kepada kami, jika kami hidup sendiri jauh dari mereka. Semua kebutuhan pun dibantu oleh keluarga dari pihak ayahku.
Rumah yang kami kontrak sebagai tumpuan usaha, langsung dilepas emak. Terbayang, Bagaimana kami dapat membayar uang sewa, sedangkan penghasilan harian pun belum tentu tercapai menutupi kebutuhan. Emak pun memutuskan untuk tinggal di rumah yang kami miliki sendiri. Yang sebelumnya sempat disewakan. Walaupun terbilang cukup kecil, alhamdulillaah masih bisa mengurangi pengeluaran kebutuhan.
Sedikit demi sedikit nenek dan kakek mengikhlaskan keputusan kami untuk tetap tinggal di rumah sendiri. Kecuali si bungsu, yang masih dirawat bibi di kampung halaman. Tidak tinggal bersama-sama disini. Kebutuhan pun emak cukupi dengan pendapatan hasil dagang sehari-hari. Beli beras, lauk, uang jajan, bayaran sekolah dan masih banyak lagi beban yang harus emak tanggung.
Kami berempat tidak bisa berbuat banyak. Belum banyak mengerti tentang pendapatan dan pengeluaran. Yang kami tahu, hanya sekedar belajar dan belajar. Sesekali liburan, membantu emak berdagang dipasar. Yang kami tahu, tidak tertinggal sholat lima waktu, puasa dan wajib setiap hari mengaji. Tidak lupa juga membagi tugas rumah sebelum berangkat sekolah. Karena emak harus berangkat pagi-pagi ke pasar, pulang sore setelah pelanggan sudah sepi.
Saat teman-teman lainnya bisa berjalan-jalan menikmati masa ABG, kami hanya bisa duduk di warung menunggu berharap pembeli datang. Aku dan kakakku tidak pernah memikirkan semua itu. Yang kami tahu, hanyalah membantu emak sebisa kami. Kadang memang manusiawi, rasa iri saat melihat saudara lain yang bisa menikmati hidup serba mencukupi. Apalagi waktu itu, handphone kamera menjadi begitu populer di kalangan anak SMA. Rasa iri, pasti ada. Tapi yang kami tahu, kami hanya perlu bersyukur bisa bertahan hidup sampai bisa bersekolah.
"Emak....entah bagaimana rasamu menghadapi kehidupan 'single parent' ini. Entah bagaimana rasa beratnya beban yang kau pikul ini. Entah bagaimana rasanya semua harus kau pikirkan sendiri."
Semakin dewasa kami, semakin meningkat pula pengeluaran. Lebih parahnya lagi pendapatan yang tak seimbang. Terpaksa emak menjual semua perhiasannya. Menutupi hutang disana sini dan kebutuhan sehari-hari. Dagangan semakin sepi. Pelanggan sudah berpindah ke lain pedagang. Yang tersisa hanyalah para sopir yang hanya beristirahat ataupun lewat membeli minum atau kopi. Aahhh....masih teringat jelas sekali. Kehidupan ekonomi keluarga kami.
Kakakku memutuskan untuk mengambil jalur PMDK di salah satu kampus negeri yang terletak agak jauh dari tempat kami tinggal. Akan menambah biaya ongkos lagi. Setahun berikutnya, aku diterima di salah satu universitas cabang. Lebih mahal dari biaya pendaftaran di kamous negeri. Terpaksa emak menjual hasil jerih payah ayahku, tanah dan rumah yang sudah agak roboh ke salah satu sanak kerabat. Alhamdulillaah, kami bisa menempuh dunia perkuliahan.
Tahun berikutnya justru semakin berat. Aku dan kakakku pun memutuskan mengajar bimbel ataupun privat. Lumayan untuk membantu biaya ongkos dan jajan. Dua tahun berikutnya adikku yang masuk ke jenjang unversitas. 'Ahh...mungkin terlalu memaksakan diri' begitu kata orang-orang. Tapi dengan support dan dukungan keluarga, walaupun hanya dari hutangan, tapi emak pantang menyerah. Sedikit demi sedikit dicicilnya. Dan akhirnya lunas juga.
Kami memang bukan dari keluarga yang serba ada. Bukan pula dari keluarga yang mengikuti zaman kekinian. Tapi pengorbanan emak membuktikan mendidik anak-anaknya adalah prioritas utama. Memberikan banyak pelajaran berharga bahwa pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya tak akan ada batasnya.
Salam hormat dari kami untukmu emak...
Anak-anak yang sudah membuatmu lelah
#sesi2minggu19
#odopfor99days2018

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini