Pendidikan Anak



Hari ke 8 bulan Ramadhon, tanggal 24 Mei 2018.
Saat sedang santai, kami membicarakan seputar sekolah anak-anak. Karena satu tahun mendatang si kembar sudah mulai masuk SD. Jadi, sebisa mungkin harus di survei sekolah-sekolah yang masuk kategori pilihan.

Sekolah memang tidak harus yang mahal. Di zaman sekarang, tidak ada yang bisa menjamin pendidikan formal bagus atau tidaknya. Kembali lagi kepada fitrah anak dan pendidikan di dalam rumah. Itulah yang menjadi dasar utama. Teringat materi di kelas Matrikulasi IP Banten. Saat materi 'Peradaban di mulai dari dalam rumah', titik mula pendidikan anak. Saat anak sudah tidak mendapatkan atau sangat minim pendidikan di dalam rumah oleh orangtuanya, maka bisa dipastikan anak tersebut akan salah dalam menemukan jalan. Sejatinya, anak adalah peniru. Anak akan menirukan setiap kata atau bahasa dari ibu atau ayahnya sendiri. Jika ibu dan ayahnya tidak bisa menjadi teladan, bahkan sampai tidak maksimal dalam mendidik anak, maka dengan mudah anak - akan terbawa oleh lingkungannya.

Ibu adalah kunci utama.
Masih ingat dengan kisah Siti Hajar???
Saat beliau harus ditinggalkan oleh sang suami demi melaksanakan perintahNya. Hanya tinggal berdua di tengah padang pasir yang tidak ada air. Kemudian buah kesabaran Siti Hajar ialah mendapati Ismail yang sholih. Nah, jika kita balikkan, apabila Siti Hajar tidak bisa mengendalikan emosinya saat sang suami pergi meninggalkannya dalam jangka waktu yang lama, kira-kira apakah yang terjadi??? Apa mungkin Ismail menjadi anak yang sabar pula??.

 Sesuai dengan ayat di bawah ini,
Allah SWT berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى السَّمَآءِ

"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,"
(QS. Ibrahim 14: Ayat 24)
* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Allaahu Akbar....
Begitulah Allah membuat sebuah perumpamaan, akar yang kuat dan cabang menjulang ke langit.
Dalam tafsir ibnu katsir,
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: perumpamaan kalimat yang baik. (Ibrahim: 24) Yakni syahadat atau persaksian yang bunyinya 'tidak ada Tuhan selain Allah'. seperti pohon yang baik. (Ibrahim: 24) Yang dimaksud ialah orang mukmin. akarnya teguh. (Ibrahim: 24) Yaitu kalimat, 'Tidak ada Tuhan selain Allah' tertanam dalam di hati orang mukmin. dan cabangnya (menjulang) ke langit. (Ibrahim: 24) Maksudnya, berkat kalimat tersebut amal orang mukmin dinaikkan ke langit.

Dapat kita renungkan kembali, pendidikan apakah yang kita berikan kepada anak-anak kelak??.
Kunci utama pendidikan yaitu bangun pondasi pribadinya dengan mengenalkan terlebih dahulu Robbnya. Orangtualah yang diamanahi oleh Allah SWT untuk menjalankan perannya, yang tidak hanya sebagai mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan fisik. Orangtuanyalah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Sekolah hanyalah sekedar fasilitas dalam mengembangkan potensi anak-anak. Baik dari segi akademis maupun mengasah bakat anak. Orangtua manapun pasti menginginkan sekolah yang baik dan bagus, untuk tetap menunjang perkembangan dan pertumbuhannya. Namun jangan sampai orangtua melemparkan tanggungjawab pendidikan ke pihak sekolah begitu saja. Justru orangtualah yang memegang setir pendidikan, pembiasaan di rumah harus menjadi bekal awal anak, agar saat bertemu dengan lingkungan yang kurang bagus, anak akan dengan mudah tidak terkontaminasi.

Wallahu'alam bisshowab....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2