Pendamping Hidup
Dalam Qs. An-Nisa ayat 1 Allah SWT berfirman:
يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 1)
Saat ku baca ayat tersebut, ku teringat sesosok lelaki yang kini menjadi menjadi pendamping hidupku. Teringat akan delapan tahun silam. Teringat penantian saat dia membacakan kalimat ijab-qabul. Persis dilaksanakan menjelang beberapa hari mendekati bulan suci Ramadhan.
NikmatMu mana lagi yang harus aku dustakan yaa Rabb???. Saat Engkau memadukan cinta di antara kami semata-mata atas karenaMu. Saat kami melewati satu per satu tantangan rumah tangga yang kerap kali muncul tanpa di undang. Saat Engkau berikan amanah-amanahMu yang sungguh luarbiasa yang harus kami laksanakan. Maka, yang terucap hanya ada kata syukur yang senantiasa dipanjatkan.
Suasana pun pecah saat tiba-tiba ku teringat temanku yang memiliki kakak yang belum kunjung memiliki pasangan. Langsung kuambil smartphoneku. Via whatsapp kami mengobrol lama. Basa basi dan akhirnya sampai di topik tujuan. Umurnya 29 tahun, menjelang kepala tiga. Untuk seorang wanita dengan usia itu, pasti orangtua pun akan sangat khawatir. Aku coba mencari celah untuk mengenalkan salah seorang kawanku, yang sama-sama mencari pasangan hidup setia. Hal ini memang sangat sensitif. Begitu sensitif, sampai-sampai harus ku mengatur kata yang tepat untuk memulainya.
Balasan chat pun masuk. 'mungkin belum jodohnya' pikirku. Janji Allah itu pasti. Itu yang kuyakini. Ku beralih lagi, mencoba mengingat percakapan saat di grup. Ada seorang kawan pula yang sudah siap menikah. Usia 27 tahun, tapi bukan dari sebuah keluarga berada sepertinya. Sebenarnya bukan sebuah masalah. Karena itu bukanlah prioritas. Ada empat hal yang dipertimbangkan saat kita hendak memilih pasangan, namun satu yang menjadi prioritas yaitu agamanya.
Sesuai dengan sabda Rasulullah saw : " wanita dinikahi karena empat hal yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya.
Maka hendaklah kamu nikahi karena agamanya, sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka. (hadist shahih riwayat Bukhari 6:123,
Muslim 4:175).
Akhirnya, temanku meminta untuk melihat terlebih dahulu foto perempuan. Daaaan.....lagi-lagi belum terlihat jalanNya. Tak diduga nomor yang dihubungi belum tersambung juga. Dilihat via sosial media pun, ternyata ia tak pernah mencantumkan foto-foto tentang dirinya. Okelah, masih menunggu jawaban. Semoga besok-besok jalanNya dimudahkan, jika memang jodoh pasti sudah digariskan.
Hampir putus asa. Segera kuakhiri percakapan dengan nada saling menyemangati. Tak ada yang salah dengan diri seseorang. Karena aku pun menyadari setiap manusia pasti ada rasa kecenderungan satu sama lain. Jika saat melihat fotonya saja rasa itu tidak sampai ke hati. Maka, tidak ada salahnya lebih baik mengundurkan diri. Cocok dan tidaknya adalah suatu kewajaran. Gumamku dalam hati, menghibur diri.
Sore itu, masih saja terfikirkan perempuan yang belum memiliki status menikah. Kakaknya temanku yang lain lagi. Tapi bukan kakak kandung. Lebih tepat kakak adopsi. Sebut saja dengan nama Sarah.
Usia Sarah hampir sama dengan temanku. Tak berharap banyak. Langsung ku sodorkan foto temanku dan sekedar biodata singkat. Aneh yah, seusia Sarah mengapa belum terfikirkan untuk membina rumah tangga. Setelah diselidiki, ternyata Sarah memiliki trauma dengan sosok laki-laki, yaitu bapaknya sendiri. Mungkin semacam sakit hati atau lain sebagainya, hingga menimbulkan keraguan Sarah untuk membangun hubungan dengan seorang lelaki.
'kak Sarah sudah memberikan lampu hijau', sederet kalimat yang membuatku bersemangat. Tanda bahwa kak Sarah akan mencoba ta'aruf.
'Alhamdulillah...', jawabku singkat.
Segera ku kirim foto kak Sarah. Ku perkenalkan nama dan tempat tinggal dia bekerja. Agak aneh sih....karena jarak keduanya jauh berbeda. 'tak apalah, jarak urusan kedua, yang penting sama-sama berusaha saling mencoba', fikirku lagi. Walau ada rasa pesimis. Ku coba lontarkan kata-kata optimis. Segala keputusan hanyalah milik Allah. Kematian, rezeki bahkan jodoh pun semuanya hanyalah kekuasaanNya. Tak ada yang bisa kita lakukan, jika Alloh berkehendak lain. Namun, tak akan ada yang bisa menghentikan jika Alloh sudah menetapkan.
Senin, 07 Mei 2018
#mencaripendampinghidup
#sesi2
#odopfor99days2018
يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 1)
Saat ku baca ayat tersebut, ku teringat sesosok lelaki yang kini menjadi menjadi pendamping hidupku. Teringat akan delapan tahun silam. Teringat penantian saat dia membacakan kalimat ijab-qabul. Persis dilaksanakan menjelang beberapa hari mendekati bulan suci Ramadhan.
NikmatMu mana lagi yang harus aku dustakan yaa Rabb???. Saat Engkau memadukan cinta di antara kami semata-mata atas karenaMu. Saat kami melewati satu per satu tantangan rumah tangga yang kerap kali muncul tanpa di undang. Saat Engkau berikan amanah-amanahMu yang sungguh luarbiasa yang harus kami laksanakan. Maka, yang terucap hanya ada kata syukur yang senantiasa dipanjatkan.
Suasana pun pecah saat tiba-tiba ku teringat temanku yang memiliki kakak yang belum kunjung memiliki pasangan. Langsung kuambil smartphoneku. Via whatsapp kami mengobrol lama. Basa basi dan akhirnya sampai di topik tujuan. Umurnya 29 tahun, menjelang kepala tiga. Untuk seorang wanita dengan usia itu, pasti orangtua pun akan sangat khawatir. Aku coba mencari celah untuk mengenalkan salah seorang kawanku, yang sama-sama mencari pasangan hidup setia. Hal ini memang sangat sensitif. Begitu sensitif, sampai-sampai harus ku mengatur kata yang tepat untuk memulainya.
Balasan chat pun masuk. 'mungkin belum jodohnya' pikirku. Janji Allah itu pasti. Itu yang kuyakini. Ku beralih lagi, mencoba mengingat percakapan saat di grup. Ada seorang kawan pula yang sudah siap menikah. Usia 27 tahun, tapi bukan dari sebuah keluarga berada sepertinya. Sebenarnya bukan sebuah masalah. Karena itu bukanlah prioritas. Ada empat hal yang dipertimbangkan saat kita hendak memilih pasangan, namun satu yang menjadi prioritas yaitu agamanya.
Sesuai dengan sabda Rasulullah saw : " wanita dinikahi karena empat hal yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya.
Maka hendaklah kamu nikahi karena agamanya, sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka. (hadist shahih riwayat Bukhari 6:123,
Muslim 4:175).
Akhirnya, temanku meminta untuk melihat terlebih dahulu foto perempuan. Daaaan.....lagi-lagi belum terlihat jalanNya. Tak diduga nomor yang dihubungi belum tersambung juga. Dilihat via sosial media pun, ternyata ia tak pernah mencantumkan foto-foto tentang dirinya. Okelah, masih menunggu jawaban. Semoga besok-besok jalanNya dimudahkan, jika memang jodoh pasti sudah digariskan.
Hampir putus asa. Segera kuakhiri percakapan dengan nada saling menyemangati. Tak ada yang salah dengan diri seseorang. Karena aku pun menyadari setiap manusia pasti ada rasa kecenderungan satu sama lain. Jika saat melihat fotonya saja rasa itu tidak sampai ke hati. Maka, tidak ada salahnya lebih baik mengundurkan diri. Cocok dan tidaknya adalah suatu kewajaran. Gumamku dalam hati, menghibur diri.
Sore itu, masih saja terfikirkan perempuan yang belum memiliki status menikah. Kakaknya temanku yang lain lagi. Tapi bukan kakak kandung. Lebih tepat kakak adopsi. Sebut saja dengan nama Sarah.
Usia Sarah hampir sama dengan temanku. Tak berharap banyak. Langsung ku sodorkan foto temanku dan sekedar biodata singkat. Aneh yah, seusia Sarah mengapa belum terfikirkan untuk membina rumah tangga. Setelah diselidiki, ternyata Sarah memiliki trauma dengan sosok laki-laki, yaitu bapaknya sendiri. Mungkin semacam sakit hati atau lain sebagainya, hingga menimbulkan keraguan Sarah untuk membangun hubungan dengan seorang lelaki.
'kak Sarah sudah memberikan lampu hijau', sederet kalimat yang membuatku bersemangat. Tanda bahwa kak Sarah akan mencoba ta'aruf.
'Alhamdulillah...', jawabku singkat.
Segera ku kirim foto kak Sarah. Ku perkenalkan nama dan tempat tinggal dia bekerja. Agak aneh sih....karena jarak keduanya jauh berbeda. 'tak apalah, jarak urusan kedua, yang penting sama-sama berusaha saling mencoba', fikirku lagi. Walau ada rasa pesimis. Ku coba lontarkan kata-kata optimis. Segala keputusan hanyalah milik Allah. Kematian, rezeki bahkan jodoh pun semuanya hanyalah kekuasaanNya. Tak ada yang bisa kita lakukan, jika Alloh berkehendak lain. Namun, tak akan ada yang bisa menghentikan jika Alloh sudah menetapkan.
Senin, 07 Mei 2018
#mencaripendampinghidup
#sesi2
#odopfor99days2018
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini