Merindukanmu....Ayah



Terlihat empat anak kecil bersaudara. Dua perempuan dan dua laki-laki. Kakak sulung berusia 13tahun, yang kedua usianya tak jauh berbeda, hanya berjarak satu setengah tahun, sedangkan yang ketiga, laki-laki yang masih menginjak kelas 4 Sd. Anak kecil yang terakhir, si bungsu, terlihat tidak ada di rumah. Ternyata ada perpisahan di TK-nya. Letaknya tidak jauh dari rumah, hanya sekitar 200 meter jaraknya.

Ahmad masih terdiam. Lama sekali. Sambil tengkurap di kasur milik neneknya. Di samping ibunya. Entah apa yang difikirkan ahmad. Tak ada senggukan tangisan. Yang nampak hanya kesedihan mendalam. Si sulung, bernama inah. Matanya sembab dan airmata yang tidak bisa dibendung lagi. Menangis sejadi-jadinya. Meratapi tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa. Menatapi mata yang sudah tak akan lagi terbuka.

Sang ibu pun hanya bisa menenangkan diri di atas kasur. Jangankan memeluk anak-anaknya, tuk menghibur diri pun sampai tak kuasa. Kehilangan suami tercinta adalah hal yang benar-benar tak terduga. Tak pernah terbayang selama hidupnya. Terlalu cepat. Di usia tahun ke 15 pernikahannya, ternyata maut tak bisa di tunda.

Tangis pun pecah. Tumpah ruah airmata. Sesenggukan yang tertahan. Saat jasad sang ayah dimandikan. Inah ikut memandikan dan menyirami kaki ayahnya. Diikuti dengan kedua adiknya. Lalu, sang ayahpun dikafani. Disaksikan puluhan mata memandang.

Sebentar lagi, ayahnya akan dikebumikan. Sebentar lagi, perpisahan nyata itu akan datang. Tak akan ada lagi candaan. Tak akan ada lagi nasihat. Tak akan ada lagi kebersamaan. Tak akan ada lagi....senyum ayah yang menyejukkan.

Semua mata tertuju kepada empat bocah itu. Rasa iba dan kasihan. Karena ditinggal di usia yang masih sangat belia. Namun, ke empat bersaudara itu menunjukkan kesabarannya. Berjalan melangkah dengan pasti. Mengiringi keranda yang menggotong sang ayah ke pemakaman. Mencoba mengikhlaskan dengan segala hati yang tersisa.

Kakak sulung mencoba menggenggam erat adik perempuannya. Seakan-akan mengatakan tak kuat tuk ditinggalkan. Tak kuat menghadapi ujianNya yang begitu membuat beban. Ahh....siapa yang akan membimbing mereka, sedang jalan di dunia masih sangat jauh dan melelahkan.

Sepulangnya dari pemakaman. Satu persatu teman, sanak saudara, kerabat, dan tetangga pun pulang, pamit dan memberikan dukungan. Memberikan support kepada sang ibu. Memberikan doa-doa kepada anak-anak almarhum. Agar kelak mereka mampu melewati ujian ini dengan sebaik-baiknya.

Sama sekali tak ada nafsu untuk mengisi perut. Ibu dan ke empat anaknya hanya bisa membaringkan diri. Mencoba memejamkan mata dan tertidur. Berharap apa yang dialami hanya sekedar mimpi. Saat terbangun, berharap ayah akan segera pulang. Dari rumah sakit dimana ayah di rawat. Berharap ayah sembuh dari rasa sakit yang tak tertahankan. Berharap segera berlalu penyakit mematikan.

Namun, saat terbangun semua masih seperti semula. Masih jelas terngingat suara ambulance itu. Di telingaku.... Hingga saat ini. Walaupun 17tahun lamanya kau pergi. Anakmu akan selalu merindukanmu...ayah. Sekarang ku mengerti, kematian itu hanyalah pintu yang kan membuka kehidupan yang sebenarnya. Bukan akhir dari segala perpisahan.

Tak kan pernah ku lupakan segala pengorbananmu untuk kami. Saat sakit kau masih berjuang untuk kami sekolah. Mengajarkan dan mengingatkan sedari kecil kami sholat dan mengaji. Mengajarkan bagaimana caranya berbagi. Terima kasih ayah.... Terima kasih atas bimbinganmu selama ini.

Tulisan ini hanyalah sepenggal rasa. Yang tak pernah sampai. Hanya menitipkan lewat lantunan do'a. Semoga Allah menempatkanmu di sisiNya. Hanya bisa kami memantaskan diri tuk berusaha menjadi anak-anak yang sholih.
Salam rindu  dari anak-anakmu yang sangat menantikan pertemuan di akhirat kelak.

#rinduayah
#sesi2
#odopfor99days2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2