Menulis 'ala' saya

Beberapa hari lagi, kita akan kedatangan tamu. Yang setiap tahun berkunjung selama satu bulan lamanya. Yupz, betul, bulan Ramadhan namanya. Dan menjelang bulan Ramadhan inilah,  kami peserta di grup Rumbel menulis IP Banten, menerima challenge 7 hari menulis puisi.

Awal challenge d posting,  ada beberapa member yang kebingungan, hihiy...mungkin pikirannya sama dengan saya, apa yang mau di tulis yah. Selama 7 hari berulang dengan tema yang sama. Namun, ada member yang optimis bisa melewatinya.

Hari pertama, jariku masih lancar menulis puisi. Hari kedua pun its okay no problem. Haha....walaupun terdengar tak beraturan. Tetap ku posting. Hari ketiga, ini nih...lumayan mentok. Sudah di tulis...hapus lagi...di tulis lagi...hapus lagi. Semakin tidak PeDe. Hari ke empat dan kelima kupaksakan diri. Menulis sejadinya dan sebisanya. Kali ini tak ku hapus lagi. Walaupun berantakan dan tak beraturan. Hari ke enam, mencari bahasa lain lagi. Semakin sulit....karena feel'y sudah digunakan di puisi sebelumnya. Jadi harus kugunakan feel yang lain, dari sudut pandang berbeda.

Setelah challenge puisi ini diberikan kepada masing-masing member. Kekhawatiran tertinggal itu ada. Sehingga timbullah strategi untuk start terlebih dahulu. Aku pun menulis puisi di satu hari sebelum jadwal posting di sosial media masing-masing. Sehingga, kemungkinan akan tertinggal, ku coba minimalisir. Begitu seterusnya hingga di hari ke dua, ketiga, ke empat, kelima dan kini di hari ke enam menulis puisi namun jadwal challenge hari keenam yaitu beaok tanggal 14 Mei 2018.


Kalau untuk mengejar nilai bagus, sammaaaaa sekali tidak ada rasa itu. Haha...sadar diri...karena aku awwam akan puisi dan tulis menulis. Termasuk pemula untuk kategori coba-coba. Setiap hari menulis pun enggak banget. Masih terikat hawa semaunya. Ups, jangan ditiru yah. Lebih senang, bercakap dengan diri sendiri. Seringkali membahas hal-hal yang mungkin menurut orang lain ga penting. Hehe...membahas dalam hati. Bukan diungkapkan begitu saja. Karena menurutku, membahas dalam hati ini sangat penting sekali. Bisa sambil memainkan feel kita saat berpendapat, dan hal itu akan tertuang begitu saja dalam tulisan.

Feel itulah yang sering kurasakan dan kugambarkan dalam setiap tulisanku. Mengikatnya dari pengalaman sehari hari. Lebih ke curahan hati. Walaupun baru sebatas itu yang kulakukan, ku harap bisa berkembang ke arah yang lebjh baik lagi. Pantas saja, semua harus di dasari penuh kesungguhan. Jika kesungguhan ada, maka terbentang luas jalan memperoleh ilmu.

Tips lainnya, saat membuat puisi atau sebuah tulisan yaitu membangun pengalaman yang sudah ada. Jangan sampai kita kehilangan pengalaman. Karena pengalaman-pengalaman tersebut tumbuh bersama dengan tulisan kita.

Selanjutnya, adalah ilmu saat kita menuliskannya. Hal ini yang seringkali menjadi salah satu hambatan dalam menulis. Seiring dengan menuliskannya, maka kita pun jangan pernah lelah untuk menimba ilmu. Karena salah satu adab amal adalah ilmu.

Mengamalkan sesuatu harus didasari oleh ilmu. Teringat saat materi matrikulasi. Awal materi adab menuntut ilmu. Dan saat diskusi membahas tentang amal yang diaplikasikan dari ilmu yang didapat. Ilmu dalam tulis menulis masih jauh sangat dirasakanku pribadi. Tergolong pemula, membutuhkan waktu tersendiri agar semangat lebih giat lagi mencari ilmu tulis menulis ini.

Untuk itulah, tujuan kita memiliki komunitas. Selain untuk saling mensupport kita dalam setiap Challenge yang diberikan. Kita pun bisa mendapat ilmu-ilmu baik yang tersirat maupun tersurat. Baik dari diskusi ataupun obrolan yang berkaitan dengan tulis menulis ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2