Menggapai Mimpi #3
Ingat sekali dalam memory Daniar. Kerja keras sang ayah yang harus membanting tulang. Pagi hingga malam berjualan. Berkeliling menawarkan dagangan kepada orang-orang. Saat itu, Daniar masih duduk di kelas 2 SD. Daniar yang waktu itu tak paham, betapa lelahnya sang ayah berjalan menyusuri pantai menawarkan pop mie kepada para pengunjung pantai. Daniar yang waktu itu tak paham, hanya duduk bermain pasir sambil menunggu kardus-kardus yang dibawa dari rumah. Daniar yang waktu itu tak paham, merasa sangat senang karena dirinya merasa seperti jalan-jalan layaknya orang-orang berlalu lalang dihadapannya.
Tetesan airmata Daniar jatuh, tak terasa. Ingatan ayahnya yang begitu lekat. Ternyata sosok yang terlihat begitu tegar, harus mengadu nasib dengan penyakit. Ditahannya semua itu. Kaki ayahnya yang sudah membengkak, ditutupi dengan kantong plastik membungkus. Ada bekas koreng yang semakin lama semakin melebar. Kaki itulah yang mengingatkan Daniar, akan arti sebuah ketegaran. Kini, Daniar paham, kaki itu tak pernah berhenti melangkah.kaki itu yang senantiasa berkorban mencari nafkah. Kaki itu yang mengajarkan Daniar arti pengorbanan. Tujuh tahun lamanya, ayah Daniar mengidap penyakit Diabetes melitus. Penyakit yang hampir memangkas kaki ayahnya.
Seminggu sebelum ayahnya meninggalkan dunia untuk selama-lamanya, ayah berpesan kepada Daniar dan kakaknya,
"Niar....kamu rajin sekolah yah, bantu kakakmu jika ia berdagang sendirian, gantian saja." suara ayahnya terdengar pelan. Sambil merintih kesakitan, "hari Sabtu pulang saja ke rumah nenek, jangan lupa rumah dikunci". Lanjutnya.
Wajarlah ayah Daniar berkata seperti itu, ayah akan dibawa ke rumah sakit bersama dengan ibu. Pasti Daniar dan kakaknya akan ditinggalkan dalam waktu yang lama.
Sekali lagi Daniar menatap dirinya sendiri. Baru lima bulan penyakit Daniar, tapi seperti lima tahun rasanya. Sudah membuat Daniar menyerah dan seperti memaksa pasrah. Malu rasanya Daniar pada ayahnya, yang telah mengajarkannya ketegaran. Diambilnya lagi buku-buku yang berantakan di atas kasur Daniar. Dipelajarinya dengan kesungguhan. Dan ia tak boleh mengalah terhadap penyakit yang dialaminya. Semangat Daniar kembali meluap-luap.
Terdengar suara dari balik pintu. Sambil membuka bukunya yang sedang dipelajari, diam-diam Daniar mendengarkan.
"Tempatnya dibagian mana, om?". Suara ibu Daniar penasaran.
"Di depan rumah saya bu, deket tinggal nyeberang aja". Jawab pak Satrio, yang sering dipanggil om Rio di lingkungan tempat tinggal kami.
Ibupun menjawab pasrah, "Ya sudah, kita coba saja dulu".
****
"Tadi siang ngobrol tentang apa obu dengan om Rio?" tanyaku saat ibu mengambilkan makan malam ke kamar tidur Daniar.
"Ohh...yang itu. Rencana minggu depan, ibu mau bawa kamu ke kampungnya om Rio, katanya disana ada pak ustadz yang bisa sembuhin penyakit kayak kamu ini, Niar." ibu menjelaskan.
"Kampung om Rio kan jauh bu??," Daniar kaget saat mendengar penjelasan ibu.
" Yah...namanya juga ikhtiar...mau yabg deket ataupun yang jauh...barangkali jodoh sembuh".
Rencana ibu sepertinya tak bisa ditawar lagi, tanpa ibu tanyakan dulu kepada Daniar ataupun kepada keluarga dari pihak ayahku. Bukan apa-apa, kampung om Rio sangat jauh sekali, belum lagi naik mobil bus dua kali dilanjut naik angkot mirip di ujung puncak kampungnya.
Keputusan ibu untuk membawa Daniar secara mendadak, menimbulkan beda pendapat diantara pihak keluarga. Pihak keluarga tidak mengizinkan untuk Daniar pergi ke tempat yang jauh. Sebisa mungkin dicegahnya niat ibu untuk membawa Daniar. Ibu semakin mantap untuk kepergiannya ke kampung halaman pak Rio, ibu tak ada pilihan lain selain mencoba. Di sisi lain, pihak keluarga meyakinkan Daniar, pengobatan terdekat juga insyaa allah bisa menyembuhkannya jika dilakukan dengan kesabaran. Dan itu membuat Daniar semakin bingung, mana yang harus dipilihnya.
****bersambung****
Tetesan airmata Daniar jatuh, tak terasa. Ingatan ayahnya yang begitu lekat. Ternyata sosok yang terlihat begitu tegar, harus mengadu nasib dengan penyakit. Ditahannya semua itu. Kaki ayahnya yang sudah membengkak, ditutupi dengan kantong plastik membungkus. Ada bekas koreng yang semakin lama semakin melebar. Kaki itulah yang mengingatkan Daniar, akan arti sebuah ketegaran. Kini, Daniar paham, kaki itu tak pernah berhenti melangkah.kaki itu yang senantiasa berkorban mencari nafkah. Kaki itu yang mengajarkan Daniar arti pengorbanan. Tujuh tahun lamanya, ayah Daniar mengidap penyakit Diabetes melitus. Penyakit yang hampir memangkas kaki ayahnya.
Seminggu sebelum ayahnya meninggalkan dunia untuk selama-lamanya, ayah berpesan kepada Daniar dan kakaknya,
"Niar....kamu rajin sekolah yah, bantu kakakmu jika ia berdagang sendirian, gantian saja." suara ayahnya terdengar pelan. Sambil merintih kesakitan, "hari Sabtu pulang saja ke rumah nenek, jangan lupa rumah dikunci". Lanjutnya.
Wajarlah ayah Daniar berkata seperti itu, ayah akan dibawa ke rumah sakit bersama dengan ibu. Pasti Daniar dan kakaknya akan ditinggalkan dalam waktu yang lama.
Sekali lagi Daniar menatap dirinya sendiri. Baru lima bulan penyakit Daniar, tapi seperti lima tahun rasanya. Sudah membuat Daniar menyerah dan seperti memaksa pasrah. Malu rasanya Daniar pada ayahnya, yang telah mengajarkannya ketegaran. Diambilnya lagi buku-buku yang berantakan di atas kasur Daniar. Dipelajarinya dengan kesungguhan. Dan ia tak boleh mengalah terhadap penyakit yang dialaminya. Semangat Daniar kembali meluap-luap.
Terdengar suara dari balik pintu. Sambil membuka bukunya yang sedang dipelajari, diam-diam Daniar mendengarkan.
"Tempatnya dibagian mana, om?". Suara ibu Daniar penasaran.
"Di depan rumah saya bu, deket tinggal nyeberang aja". Jawab pak Satrio, yang sering dipanggil om Rio di lingkungan tempat tinggal kami.
Ibupun menjawab pasrah, "Ya sudah, kita coba saja dulu".
****
"Tadi siang ngobrol tentang apa obu dengan om Rio?" tanyaku saat ibu mengambilkan makan malam ke kamar tidur Daniar.
"Ohh...yang itu. Rencana minggu depan, ibu mau bawa kamu ke kampungnya om Rio, katanya disana ada pak ustadz yang bisa sembuhin penyakit kayak kamu ini, Niar." ibu menjelaskan.
"Kampung om Rio kan jauh bu??," Daniar kaget saat mendengar penjelasan ibu.
" Yah...namanya juga ikhtiar...mau yabg deket ataupun yang jauh...barangkali jodoh sembuh".
Rencana ibu sepertinya tak bisa ditawar lagi, tanpa ibu tanyakan dulu kepada Daniar ataupun kepada keluarga dari pihak ayahku. Bukan apa-apa, kampung om Rio sangat jauh sekali, belum lagi naik mobil bus dua kali dilanjut naik angkot mirip di ujung puncak kampungnya.
Keputusan ibu untuk membawa Daniar secara mendadak, menimbulkan beda pendapat diantara pihak keluarga. Pihak keluarga tidak mengizinkan untuk Daniar pergi ke tempat yang jauh. Sebisa mungkin dicegahnya niat ibu untuk membawa Daniar. Ibu semakin mantap untuk kepergiannya ke kampung halaman pak Rio, ibu tak ada pilihan lain selain mencoba. Di sisi lain, pihak keluarga meyakinkan Daniar, pengobatan terdekat juga insyaa allah bisa menyembuhkannya jika dilakukan dengan kesabaran. Dan itu membuat Daniar semakin bingung, mana yang harus dipilihnya.
****bersambung****
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini