Menggapai Mimpi #2




Sampai juga Daniar dan ibunya di pohon tersebut. Ditemani dengan mang asep dan bapak tua yang membawa air.
"Tempat jatuhnya dimana neng?". Tanya bapak tua itu.
"Disana pak". Sambil ku tunjuk pohon besar di salah satu tempat rekreasi yang pernah membuatku terjatuh saat permainan.
Beberapa pasang mata memandang, terkesan aneh. Mungkin mereka berfikir, apa yang dilakukan Daniar?? Berdo'a?? Menyembah pohon??? Atau minta ampun???. Aahh...Daniar sangat terlihat gelisah. Di benaknya, hanya terlintas mohon ampun kepada sang Kuasa.

*****
"Memang ga apa-apa ya kak??. Tanya Daniar sambil melihat langit-langit kamar.
"Apanya??". Devinar, kakak Daniar mengernyitkan dahi, tanda tak paham.
"Sampai harus berdo'a di depan pohon itu. Apa penyakit ini datang dari makhluk ghaib yang ada di pohon itu??. Apa kita termasuk orang musyrik??." Jelasnya lagi,  mencari pembenaran.
" Ga usah dipikirin Niar...yang penting diniatkan dalam hati untuk tidak musyrik." kakak mencoba menenangkan.

*****
Setelah kunjungan dari pohon itu, kondisi Daniar tetap tak berubah. Pinggang hingga ke paha justru semakin membengkak.
Tatapan mata para tetangga dengan rasa iba. Dan ucapan tak sepakat dari beberapa kerabat keluarga atas kejadian itu, menumbuhkan rasa penyesalan yang amat dalam di hati Daniar.
" Sudah Niar... Mulai sekarang tak perlu lagi kamu ikut acara sekolah yang seperti itu". Salah satu paman menasehati, "Sekarang baru kerasa dampak buruknya kan. Jika nanti sudah sembuh, ga usah ikut-ikut lagi " lanjutnya, dengan nada khas kedaerahan.
Hanya dijawab dengan anggukan.
Daniar hanya sekedar mengikuti ekskul pecinta alam saja. Hanya ingin berkeliling melihat berbagai ciptaanNya. Hanya itu. Ya, hanya itu. Tapi banyak yang tak setuju, ternyata itulah yang membuat rasa bersalah Daniar semakin dalam .

Daniar yakin, penyakit hanya milik Allah. Yang memberikan pun Allah. Jika Dia mampu menciptakan penyakit. Maka Dia pun pasti memberikan obatnya. Walau entah sampai kapan Daniar menghadapinya.
Masa - masa indah saat menjelang kelulusan, harus Daniar ikhlaskan. Saat teman-teman lainnya, sibuk belajar bersama, membahas soal-soal ujian bersama-sama. Tertawa bersama-sama. Bahkan mereka bisa melakukan berbagai kegiatan bersama. Daniar hanya terbaring di kasur sendiri. Sepi. Rencana saat ingin melanjutkan ke dunia perkuliahan seperti teman-teman, ahh tak akan terjadi. Haruskah semua akan terhenti hanya sampai disini ya Allah???. Batin Daniar menjerit. Perlahan tetesan itu tiba-tiba mengalir. Tak bisa terbendung. Ahh...lagi-lagi Daniar tampak putus asa.
Namun, rajutan keikhlasan itu harus tetap bersemi. Harus tetap tumbuh. Apapun yang terjadi. Seberapa pun beratnya. 
By : Daniar. 
Tulisnya dalam sebuah buku kecil yang bertuliskan Diaryku.

Badan yang semakin melemah. Kurus hanya tinggal tulang. Mata celong, lingkaran hitam. Justru membuat ibu Daniar semakin khawatir. Setiap hari, harus bermandikan air sereh rebusan. Ikhtiar. Kata ibunya, mencoba menghibur Daniar. "Semoga segera hilang bengkak di pahamu yah, nak...". Do'a ibu terucap lembut di telinga.

******
" Sudah enakan kakinya, dek??", salah seorang ahli pijat bertanya kepadaku
"Sudah agak mending pak", jawabku pelan.
Alhamdulillaah....mata ibu sedikit bersinar bahagia. Walau memang Daniar tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Daniar masih merasa kesakitan. Tapi untuk melihat senyum ibunya, tak apalah meski harus pulang pergi berobat ke ahli pijat.

Daniar mengambil buku pelajaran. Barangkali bisa mengurangi rasa jenuh di rumah. Sudah lima bulan lamanya, Daniar sakit. Tak jarang sendirian si rumah. Ibunya bekerja banting tulang. Kakaknya harus kuliah. Ayahnya, sudah lama meninggalkan mereka. Karena suatu penyakit mematikan. Dan tiba-tiba bayangan wajah ayahnya tampak dekat di mata Daniar.

***bersambung***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2