Mengawas di Hari Pertama
Pagi-pagi sekali ku harus bangun. Biasanya jam pergi mengajar pukul.06.20. Namun, karena mendapatkan jam mengawas, akhirnya aku pun harus berangkat lebih awal dari biasanya. Yups, jam lima lewat empat puluh lima menit aku pun berangkat. Ada jadwal mengawas USBN hari ini, jadi sebisa mungkin agar aku tidak telat saat hari pertama. Alhamdulillah, mobil pun tak menunggu mencari penumpang. Cukup melegakan dan dipastikan tak akan terlambat.
Walaupun perut agak keroncongan meminta hak untuk di isi, namun hati tak menghiraukan. 'Biarlah lapar asal tak tdrlambat' batinku dalam hati. Sesaat d lokasi tempat mengawas, ada hal-hal yang membuatku merasa gundah. Ahh....mencoba kembali berfikir. Barangkali ada sesuatu atau barang yang ku lupakan. Namun, tetap tak menemukan apa jawabannya.
Pihak sekolah mulai menyuguhkan kami berbagai macam kue-kue sebagai pengganjal perut. Aku dan rekan guru lainnya...menikmati hidangan tersebut.
Jam masuk kelas pun tiba, pukul 07.45 menit, tepat 15 menit sebelum siswa mengerjakan tugas kami harus stand by d kelas ujian.
Masih dengan perasaan yang sama, mencari jawaban mengapa kegundahan ini terus menghantui fikiran. Selesai mengawas, aku pun membuka pesan masuk via whatsapp. Membaca pesan satu persatu. Tiba di tengah percakapan grup whatsapp....aku pun memainkan scroll chat ku. Membaca pesan berulang-ulang, khawatir aku salah lihat. Dan disitulah ku merasa kaget. Mengapa bu rina menanyakan fakhri yah?? Mengapa fakhri dan fahmi tidak pergi sekolah??. Hatiku pun mulai bertanya tanya.
Sesampai di rumahpun, langsung ku tanyakan kepada fahmi dan fakhri, dua buah hati yang menjadi warna dalam kehidupan ini. Fahmi adalah putra kedua dan fakhri menjadi putra urutan ketiga. Jangka waktu kelahiran mereka beda lima menit. Walaupun kembar identik, Namun karakter dan watak masing-masingpun berbeda. Fahmi langsung menjawab pertanyaan yang saya berikan, "aa sama dede ga ke sekolah, soalnya umi ga siapin baju aa dan dede sih" protes fahmi memulai lebih dulu. Diikuti protes fakhri yang tidak kalah meninggi.
Astaghfirullaah....batinku mulai menangis. Menangis bukan karena mereka tak pergi ke sekolah. Menangis bukan karena mereka tak bisa mengambil baju sekolahnya sendiri. Tangisku kali ini, menyadarkanku bahwa pengorbananku di ranah publik ini tak akan bermakna tanpa dukungan dari mereka.
Anak-anakku tak pernah merasa keberatan untukku mengajar anak orang lain. Anak-anakku....tak pernah menuntutku selalu disamping mereka ditengah kesibukanku. Yang mereka harapkan hanyalah sekedar perhatian seorang ibu terhadap anaknya. Yah...hanya sekedar menyiapkan baju sekolah yang mereka inginkan. Walaupun ada ART di rumah yang bisa menyiapkan segala kebutuhan, tak bisa menggantikan perhatian yang kuberikan untuk mereka, anak-anakku.
Segera ku meminta maaf. Dan berjanji tidak akan terburu-buru berangkat pergi ke sekolah. Baju sekolah mereka pun harus selalu siap di saat ku berangkat bekerja diluar rumah. Hal sepele. Namun justru membuat si kembar berfikir salah faham. Tas yang biasanya ku siapkan, ternyata masih tergeletetak rapih tanpa tersentuh.
Ada rasa putus asa. Ahh...apakah waktuku bisa benar benar lebih dominan untuk membersamai anak-anak. Ataukah justru kegiatan sekolah yang akan lebih mendominasi porsir waktuku.
Kembali lagi ke niat awal. Aku harus sebisa mungkin memprioritaskan kebutuhan mereka. Betul sekali, walaupun hanya sekedar menyiapkan baju sekolah. Namun termasuk berharga bagi mereka. Walaupun hanya sekedar menunggu saat mereka sikat gigi. Namun itulah salah satu kebahagiaan mereka saat aku berada di rumah. Jarak antara tempat mengajar dan tempat tinggalku sekarang terhitung lumayan jauh. Jika aku berangkat dari sekolah pukul 12.00 maka sesampainya dirumah pukul 13.15. Perkiraan selama dua jam habis waktu di jalan. Sebisa mungkin saat di angkot, ku baca beberapa ayat Al-Qur'an. Ataupun Membaca beberapa buku yang membuat motivasi mendidikku semakin meningkat. Karena pasti adakalanya, motivasi ini....semangat ini...turun naik. Melihat tingkah laku anak-anak yang kadang membuat emosi meledak-ledak, seringkali membuatku berputus asa dalam mendidik mereka. Alhamdulillaah..beberapa grup seputar parenting membuat aku kembali optimis lagi. Bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Tidak ada anak yang terlahir 'nakal' seperti cap yang orang-orang katakan. Tidak ada anak yang membawa karakter buruk di dunia ini. Karena semua anak membawa fitrahnya masing-masing. Orangtuanyalah yang harus banyak melakukan evaluasi atas pendidikan yang diberikan, dan kini itulah yang ku lakukan. Sediki demi sedikit mengubah pola asuh mereka. Agar kelak anak-anakku mampu menjadi generasi yang kami diharapkan.
#odopfor99days2018
Walaupun perut agak keroncongan meminta hak untuk di isi, namun hati tak menghiraukan. 'Biarlah lapar asal tak tdrlambat' batinku dalam hati. Sesaat d lokasi tempat mengawas, ada hal-hal yang membuatku merasa gundah. Ahh....mencoba kembali berfikir. Barangkali ada sesuatu atau barang yang ku lupakan. Namun, tetap tak menemukan apa jawabannya.
Pihak sekolah mulai menyuguhkan kami berbagai macam kue-kue sebagai pengganjal perut. Aku dan rekan guru lainnya...menikmati hidangan tersebut.
Jam masuk kelas pun tiba, pukul 07.45 menit, tepat 15 menit sebelum siswa mengerjakan tugas kami harus stand by d kelas ujian.
Masih dengan perasaan yang sama, mencari jawaban mengapa kegundahan ini terus menghantui fikiran. Selesai mengawas, aku pun membuka pesan masuk via whatsapp. Membaca pesan satu persatu. Tiba di tengah percakapan grup whatsapp....aku pun memainkan scroll chat ku. Membaca pesan berulang-ulang, khawatir aku salah lihat. Dan disitulah ku merasa kaget. Mengapa bu rina menanyakan fakhri yah?? Mengapa fakhri dan fahmi tidak pergi sekolah??. Hatiku pun mulai bertanya tanya.
Sesampai di rumahpun, langsung ku tanyakan kepada fahmi dan fakhri, dua buah hati yang menjadi warna dalam kehidupan ini. Fahmi adalah putra kedua dan fakhri menjadi putra urutan ketiga. Jangka waktu kelahiran mereka beda lima menit. Walaupun kembar identik, Namun karakter dan watak masing-masingpun berbeda. Fahmi langsung menjawab pertanyaan yang saya berikan, "aa sama dede ga ke sekolah, soalnya umi ga siapin baju aa dan dede sih" protes fahmi memulai lebih dulu. Diikuti protes fakhri yang tidak kalah meninggi.
Astaghfirullaah....batinku mulai menangis. Menangis bukan karena mereka tak pergi ke sekolah. Menangis bukan karena mereka tak bisa mengambil baju sekolahnya sendiri. Tangisku kali ini, menyadarkanku bahwa pengorbananku di ranah publik ini tak akan bermakna tanpa dukungan dari mereka.
Anak-anakku tak pernah merasa keberatan untukku mengajar anak orang lain. Anak-anakku....tak pernah menuntutku selalu disamping mereka ditengah kesibukanku. Yang mereka harapkan hanyalah sekedar perhatian seorang ibu terhadap anaknya. Yah...hanya sekedar menyiapkan baju sekolah yang mereka inginkan. Walaupun ada ART di rumah yang bisa menyiapkan segala kebutuhan, tak bisa menggantikan perhatian yang kuberikan untuk mereka, anak-anakku.
Segera ku meminta maaf. Dan berjanji tidak akan terburu-buru berangkat pergi ke sekolah. Baju sekolah mereka pun harus selalu siap di saat ku berangkat bekerja diluar rumah. Hal sepele. Namun justru membuat si kembar berfikir salah faham. Tas yang biasanya ku siapkan, ternyata masih tergeletetak rapih tanpa tersentuh.
Ada rasa putus asa. Ahh...apakah waktuku bisa benar benar lebih dominan untuk membersamai anak-anak. Ataukah justru kegiatan sekolah yang akan lebih mendominasi porsir waktuku.
Kembali lagi ke niat awal. Aku harus sebisa mungkin memprioritaskan kebutuhan mereka. Betul sekali, walaupun hanya sekedar menyiapkan baju sekolah. Namun termasuk berharga bagi mereka. Walaupun hanya sekedar menunggu saat mereka sikat gigi. Namun itulah salah satu kebahagiaan mereka saat aku berada di rumah. Jarak antara tempat mengajar dan tempat tinggalku sekarang terhitung lumayan jauh. Jika aku berangkat dari sekolah pukul 12.00 maka sesampainya dirumah pukul 13.15. Perkiraan selama dua jam habis waktu di jalan. Sebisa mungkin saat di angkot, ku baca beberapa ayat Al-Qur'an. Ataupun Membaca beberapa buku yang membuat motivasi mendidikku semakin meningkat. Karena pasti adakalanya, motivasi ini....semangat ini...turun naik. Melihat tingkah laku anak-anak yang kadang membuat emosi meledak-ledak, seringkali membuatku berputus asa dalam mendidik mereka. Alhamdulillaah..beberapa grup seputar parenting membuat aku kembali optimis lagi. Bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini. Tidak ada anak yang terlahir 'nakal' seperti cap yang orang-orang katakan. Tidak ada anak yang membawa karakter buruk di dunia ini. Karena semua anak membawa fitrahnya masing-masing. Orangtuanyalah yang harus banyak melakukan evaluasi atas pendidikan yang diberikan, dan kini itulah yang ku lakukan. Sediki demi sedikit mengubah pola asuh mereka. Agar kelak anak-anakku mampu menjadi generasi yang kami diharapkan.
#odopfor99days2018
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini