Lima Ribu Rupiah
Minggu, 06 Mei 2018
Kami sekeluarga pergi jalan-jalan hanya sekedar santai dan refreshing. Sekedar cuci mata sambil mengajak kaki untuk berolahraga di sepanjang jalan Car Free Day Cilegon. Menikmati saat-saat bersama mereka tanpa handphone ataupun pekerjaan rutinitas. Menikmati para pedagang yang berjualan macam-macam rupa. Melihat banyaknya keluarga yang tertawa bersama sanak dan saudara. Melihat berbagai macam sekumpulan gadis-gadis muda dengan memakai seragam senam plus sepatu kets yang match dengan warna pakaian.
Teteh Alya, Fahmi dan Fakhri begitu bersemangat menyusuri jalan. Pandangan mereka tertuju pada banyaknya makanan yang berbaris rapih dipinggir jalan. Tak lama, fahmi mulai menarik-narik kerudungku. Wah, kode nih.
"ada apa aa fahmi??." Kutanya fahmi baik-baik
"mau beli es..." jawabnya dengan nada pelan
Tak lama kemudian fakhri menyahut dengan nada sama, "dede juga mau es mi...".
Sambil mencari-cari es yang dianggap enak oleh fahmi, kami terus melanjutkan jalan santai. Akhirnya pilihan jatuh di salah satu kedai es yang membuat daya tarik anak-anak semakin menguat. Kutawarkan es tersebut pada teteh Alya. Tapi teteh alya menolak. "uangnya kan ga cukup mi" katanya sambil menunjukkan uang sebesar lima ribu rupiah. Alhamdulillah, teteh alya sudah bisa mempertimbangkan mana yang harus dibeli dengan uang tersebut tanpa meminta tambah uang lagi.
Teteh alya mencari-cari jajanan yang cocok namun harga rata-rata es di atas lima ribu rupiah. Uwaknya tidak tega melihat alya kekurangan uang. Dibelikanlah es yang sama dengan fahmi dan fakhri. Tentu saja teteh alya sangat senang mendapat es gratisan.
Setelah anak-anak lelah bermain d samping masjid di wilayah tersebut. Kami pun mulai menyusuri lagi jalan. Fahmi dan fakhri merengek meminta mancing ikan.
"mi, aa pingin main ikan" setengah sesenggukan "dede juga pengen main yah de" lanjutnya lagi. Beginilah resikonya mengajak jalan-jalan di tempat ramai. Sebelum mengiyakan, aku pun memberi syarat kepada anak-anak. "kalau harga mancingnya lima ribu boleh...tapi kalau sepuluh ribu ga usah yah" jawabku.
Akhirnya mencapai kesepakatan....keduanya mengangguk, tanda iya. Bukan karena aku tak ingin memenuhi permintaan mereka. Tapi lebih kepada kedisiplinan, agar sewaktu-waktu kami jalan-jalan di tempat ramai, mereka tidak langsung menghamburkan uang hanya sekedar keinginan semata. Aku dan suami sepakat untuk terlebih dulu mengajarkan mereka kebutuhan yang harus didahulukan.
Setelah ku tanyakan harga kepada sang pemilik ikan. Fahmi fakhri pun mengalah. Karena harga memancing Rp.10.000. Uang lima ribu yang masih dalam genggaman, aku coba tawarkan untuk barang yang lebih bermanfaat. Ada pedagang bakpao dengan harga lima ribu dan juga pedagang kaos kaki. Aku mencoba menawarkan kepada mereka, kira-kira mana yang lebih dibutuhkan. Teteh alya langsung bersemangat ingin membeli kaos kaki, mengingat kaos kaki kesayangannya sudah berlubang. Alhamdulillah, sekali lagi teteh Alya sudah bisa membuktikan bahwa kebutuhan lebih prioritas daripada sekedar keinginan. Akhirnya fahmi dan fakhri pun membelanjakan uang tersebut untuk membeli kaoskaki juga.
Saat kami berada di luarpun, banyak sekali hal-hal yang harus diajarkan. Lebih tepatnya mulai ditanamkan sejak dini. Karena orangtualah yang akan bertanggungjawab atas pendidikan yang diberikan. Hal sepele seperti lima ribu pun akan menjadi sangat panjang pembelajarannya. Tidak sekedar untuk jajan semata. Ada hal lain yang justru mampu menjadikan anak-anak mampu berkembang sesuai dengan fitrahnya. Mendidik dengan kesabaran, insyaa alloh akan menuai keberkahan dengan hasil yang optimal. "Biarlah kelelahan itu, yang kewalahan mengikuti jejak langkah kita". Dikutip dari kata-kata ibu Septi, Founder IIP.
#sesi2minggu1
#odopfor99days2018
Kami sekeluarga pergi jalan-jalan hanya sekedar santai dan refreshing. Sekedar cuci mata sambil mengajak kaki untuk berolahraga di sepanjang jalan Car Free Day Cilegon. Menikmati saat-saat bersama mereka tanpa handphone ataupun pekerjaan rutinitas. Menikmati para pedagang yang berjualan macam-macam rupa. Melihat banyaknya keluarga yang tertawa bersama sanak dan saudara. Melihat berbagai macam sekumpulan gadis-gadis muda dengan memakai seragam senam plus sepatu kets yang match dengan warna pakaian.
Teteh Alya, Fahmi dan Fakhri begitu bersemangat menyusuri jalan. Pandangan mereka tertuju pada banyaknya makanan yang berbaris rapih dipinggir jalan. Tak lama, fahmi mulai menarik-narik kerudungku. Wah, kode nih.
"ada apa aa fahmi??." Kutanya fahmi baik-baik
"mau beli es..." jawabnya dengan nada pelan
Tak lama kemudian fakhri menyahut dengan nada sama, "dede juga mau es mi...".
Sambil mencari-cari es yang dianggap enak oleh fahmi, kami terus melanjutkan jalan santai. Akhirnya pilihan jatuh di salah satu kedai es yang membuat daya tarik anak-anak semakin menguat. Kutawarkan es tersebut pada teteh Alya. Tapi teteh alya menolak. "uangnya kan ga cukup mi" katanya sambil menunjukkan uang sebesar lima ribu rupiah. Alhamdulillah, teteh alya sudah bisa mempertimbangkan mana yang harus dibeli dengan uang tersebut tanpa meminta tambah uang lagi.
Teteh alya mencari-cari jajanan yang cocok namun harga rata-rata es di atas lima ribu rupiah. Uwaknya tidak tega melihat alya kekurangan uang. Dibelikanlah es yang sama dengan fahmi dan fakhri. Tentu saja teteh alya sangat senang mendapat es gratisan.
Setelah anak-anak lelah bermain d samping masjid di wilayah tersebut. Kami pun mulai menyusuri lagi jalan. Fahmi dan fakhri merengek meminta mancing ikan.
"mi, aa pingin main ikan" setengah sesenggukan "dede juga pengen main yah de" lanjutnya lagi. Beginilah resikonya mengajak jalan-jalan di tempat ramai. Sebelum mengiyakan, aku pun memberi syarat kepada anak-anak. "kalau harga mancingnya lima ribu boleh...tapi kalau sepuluh ribu ga usah yah" jawabku.
Akhirnya mencapai kesepakatan....keduanya mengangguk, tanda iya. Bukan karena aku tak ingin memenuhi permintaan mereka. Tapi lebih kepada kedisiplinan, agar sewaktu-waktu kami jalan-jalan di tempat ramai, mereka tidak langsung menghamburkan uang hanya sekedar keinginan semata. Aku dan suami sepakat untuk terlebih dulu mengajarkan mereka kebutuhan yang harus didahulukan.
Setelah ku tanyakan harga kepada sang pemilik ikan. Fahmi fakhri pun mengalah. Karena harga memancing Rp.10.000. Uang lima ribu yang masih dalam genggaman, aku coba tawarkan untuk barang yang lebih bermanfaat. Ada pedagang bakpao dengan harga lima ribu dan juga pedagang kaos kaki. Aku mencoba menawarkan kepada mereka, kira-kira mana yang lebih dibutuhkan. Teteh alya langsung bersemangat ingin membeli kaos kaki, mengingat kaos kaki kesayangannya sudah berlubang. Alhamdulillah, sekali lagi teteh Alya sudah bisa membuktikan bahwa kebutuhan lebih prioritas daripada sekedar keinginan. Akhirnya fahmi dan fakhri pun membelanjakan uang tersebut untuk membeli kaoskaki juga.
Saat kami berada di luarpun, banyak sekali hal-hal yang harus diajarkan. Lebih tepatnya mulai ditanamkan sejak dini. Karena orangtualah yang akan bertanggungjawab atas pendidikan yang diberikan. Hal sepele seperti lima ribu pun akan menjadi sangat panjang pembelajarannya. Tidak sekedar untuk jajan semata. Ada hal lain yang justru mampu menjadikan anak-anak mampu berkembang sesuai dengan fitrahnya. Mendidik dengan kesabaran, insyaa alloh akan menuai keberkahan dengan hasil yang optimal. "Biarlah kelelahan itu, yang kewalahan mengikuti jejak langkah kita". Dikutip dari kata-kata ibu Septi, Founder IIP.
#sesi2minggu1
#odopfor99days2018
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini