Finansial Keluarga
Saat awal-awal matrikulasi di institut ibu profesional batch 5 wilayah banten 1, banyak sekali tamu yang datang di grup whatsapp matrik. Dengan jadwal yang sudah disusun rapi, secara bergilir para pengurus IIP hadir di tengah-tengah kami.
Program matrikulasi ini biasa kita kenal dengan sebutan 30MLD, artiny 30 menit lebih dekat bersama IIP. Mereka pun memperkenalkan diri. Masing-masing mengenalkan IIP dengan cara yang berbeda. Mengenalkan passion masing-masing dengan cara yang berbeda. Memberikan ilmu-ilmu yang luarbiasa. Memberikan kepada kami, pelajaran yang penuh hikmah, bahwa kesungguhan inilah yang akan mengantarkan kita menjadi ibu profesional.
Salah satu tamu yang membuat saya kagum adalah mba Dwi Yunita Indah Sari. Beliau ialah direktur keuangan di IIP. Salah satu oleh-oleh di akhir diskusi, yaitu slide yang berisi literasi finansial di keluarga. Gerakan literasi keuangan keluarga yaitu dapat dimulai ibu sebagai perencana keuangan di keluarga.
Tips-tips yang beliau berikan antara lain:
1. Membiasakan anggota keluarga menabung
2. Membiasakan anggota keluarga berderma
3. Membiasakan praktek 4R : Reduce, Rwuse, Recycle, Recover kepada anggota keluarga
4. Melakukan permainan yang berkaitan dengan literasi keuangan bersama leluarga (misalnya bermain jual beli)
Nah untuk lebih menarik, bisa dilihat di link yang ada dibawah ini:
https://www.powtoon.com/c/elx2l5kX98o/1/m
Tips-tips di atas bisa kita praktekkan bersama anggota keluarga. Apalagi jika anak-anak kita masih tergolong dini. Hal ini diperlukan penanaman sejak dini. Sehingga tahap usia berikutnya saat anak-anak mulai mengenal uang, mereka sudah mulai mengolah keuangan dengan baik.
Mengatur keuangan adalah salah satu hal terpenting dalam sebuah rumahtangga. Jika seorang istri tidak bisa mengatur keuangan dengan baik, maka bisa dipastikan pengeluaran akan membengkak dan kebutuhan pun tidak akan bisa dipenuhi sesuai dengan porsinya. Yang ada justru keinginan yang berbagai macam dari hawa nafsu semata.
Tidak perlu memiliki kemampuan khusus yang dimiliki untuk mengatur keuangan. Namun, bukan pula kita tidak perlu memiliki ilmu untuk mengatur keuangan kita. Semua amal yang kita lakukan harus sesuai dengan ilmu-ilmu. Agar bisa menuai berkah dari setiap amal perbuatan. Begitu pula dari segi aspek pengeluaran keuangan.
Ada beberapa ibu yang sudah konsisten mengajarkan kepada anak mulai sejak dini. Ada pula yang masih ragu untuk mengajarkan di usia SD. Semua tergantung kepada kegigihan sang ibu. Karena semua tidak ada yang berjalan instan. Pasti akan ada proses dari setiap komitmen yang ditekadkan.
Masing-masing ibu memiliki cerita yang berbeda. Ada yang anak-anaknya di usia 7tahun sudah bisa menghemat keuangan yang diamanahkan. Awalnya pasti agak kesulitan karena anak-anak lebih cenderung merengek dan meminta. Lama kelamaan jatah seminggu menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi anak. Yang difikirkan sejak awal oleh anak adalah bagaimana cara agar uang tersebut tidak cepat habis. Karena diawal kesepakatan dengan sang ibu, tidak ada tambahan jika uang jatah sudah habis.
Awalnya berat, kata sang ibu. Namun sang ibulah yang selalu menguatkan anak agar sebisa mungkin menghemat uang jatah yang diberikan. Anak pun sedikit demi sedikit akan paham akan hal ini. Akhirnya anak tersebut bisa mengelola uang bahkan sampai menabungnya dalam jumlah yang banyak. Anak pertama sudah terlatih, anak kedua dan seterusnya bisa mengikuti dari kebiasaan kakaknya.
#odopsesi2
#odopfor99days2018
Program matrikulasi ini biasa kita kenal dengan sebutan 30MLD, artiny 30 menit lebih dekat bersama IIP. Mereka pun memperkenalkan diri. Masing-masing mengenalkan IIP dengan cara yang berbeda. Mengenalkan passion masing-masing dengan cara yang berbeda. Memberikan ilmu-ilmu yang luarbiasa. Memberikan kepada kami, pelajaran yang penuh hikmah, bahwa kesungguhan inilah yang akan mengantarkan kita menjadi ibu profesional.
Salah satu tamu yang membuat saya kagum adalah mba Dwi Yunita Indah Sari. Beliau ialah direktur keuangan di IIP. Salah satu oleh-oleh di akhir diskusi, yaitu slide yang berisi literasi finansial di keluarga. Gerakan literasi keuangan keluarga yaitu dapat dimulai ibu sebagai perencana keuangan di keluarga.
Tips-tips yang beliau berikan antara lain:
1. Membiasakan anggota keluarga menabung
2. Membiasakan anggota keluarga berderma
3. Membiasakan praktek 4R : Reduce, Rwuse, Recycle, Recover kepada anggota keluarga
4. Melakukan permainan yang berkaitan dengan literasi keuangan bersama leluarga (misalnya bermain jual beli)
Nah untuk lebih menarik, bisa dilihat di link yang ada dibawah ini:
https://www.powtoon.com/c/elx2l5kX98o/1/m
Tips-tips di atas bisa kita praktekkan bersama anggota keluarga. Apalagi jika anak-anak kita masih tergolong dini. Hal ini diperlukan penanaman sejak dini. Sehingga tahap usia berikutnya saat anak-anak mulai mengenal uang, mereka sudah mulai mengolah keuangan dengan baik.
Mengatur keuangan adalah salah satu hal terpenting dalam sebuah rumahtangga. Jika seorang istri tidak bisa mengatur keuangan dengan baik, maka bisa dipastikan pengeluaran akan membengkak dan kebutuhan pun tidak akan bisa dipenuhi sesuai dengan porsinya. Yang ada justru keinginan yang berbagai macam dari hawa nafsu semata.
Tidak perlu memiliki kemampuan khusus yang dimiliki untuk mengatur keuangan. Namun, bukan pula kita tidak perlu memiliki ilmu untuk mengatur keuangan kita. Semua amal yang kita lakukan harus sesuai dengan ilmu-ilmu. Agar bisa menuai berkah dari setiap amal perbuatan. Begitu pula dari segi aspek pengeluaran keuangan.
Ada beberapa ibu yang sudah konsisten mengajarkan kepada anak mulai sejak dini. Ada pula yang masih ragu untuk mengajarkan di usia SD. Semua tergantung kepada kegigihan sang ibu. Karena semua tidak ada yang berjalan instan. Pasti akan ada proses dari setiap komitmen yang ditekadkan.
Masing-masing ibu memiliki cerita yang berbeda. Ada yang anak-anaknya di usia 7tahun sudah bisa menghemat keuangan yang diamanahkan. Awalnya pasti agak kesulitan karena anak-anak lebih cenderung merengek dan meminta. Lama kelamaan jatah seminggu menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi anak. Yang difikirkan sejak awal oleh anak adalah bagaimana cara agar uang tersebut tidak cepat habis. Karena diawal kesepakatan dengan sang ibu, tidak ada tambahan jika uang jatah sudah habis.
Awalnya berat, kata sang ibu. Namun sang ibulah yang selalu menguatkan anak agar sebisa mungkin menghemat uang jatah yang diberikan. Anak pun sedikit demi sedikit akan paham akan hal ini. Akhirnya anak tersebut bisa mengelola uang bahkan sampai menabungnya dalam jumlah yang banyak. Anak pertama sudah terlatih, anak kedua dan seterusnya bisa mengikuti dari kebiasaan kakaknya.
#odopsesi2
#odopfor99days2018
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini