Cintailah Ramadhanmu #5
Hari ke 5 Ramadhan. Tanggal 21 Mei 2018.
Sepulang sekolah, teteh minta dibuatkan celengan Zakat. Karena lupa membeli bahan-bahan, alhasil tunda dulu deh yah.
Kita berempat, menonton video menggambar dan mewarnai. Hasil download kemarin. Yang mau intip, silahkan dilihat disini yah ๐.
https://youtu.be/kZkGF-kFNEQ
Masyaa Allah....Maha kuasa Allah yang menciptakan anak kecil yang suka menggambar dan mewarnai sampai sebagus ini.
Teteh Alya ikut menggambar, tapi ga PeDe. Bikin....hapus..bikin lagi...hapus lagi...bikin lagi....akhirnya menyerah juga deh๐. Minta tolong dibuatkan uminya. Tidak hanya video ini saja yang kami download. Sebelumnya pernah kami menggambar pesawat dan mobil juga dipandu video youtube, masyaa Allah..luarbiasa semangatnya...lagih...lagih...dan lagih...bikin ketagihan untuk menggambar dan mewarnai.
Gambar kami sederhana. Gambar kami tak seindah contohnya. Gambar kami tak rapih dipandang mata. Banyak garis tak lurus dimana-mana. Banyak tarikan pensil kami yang tak sejajar dengan tiruannya. Tapi entah mengapa anak-anak tak pernah mempermasalahkannya. Lagi, lagi dan terus mencoba lagi. Tak pernah putus asa mencoba. Jikalau meminta bantuan, mereka pun akan tetap mencoba. Mungkin disanalah fitrah mereka. Allah menciptakan manusia, sebenarnya tidak cepat berputus asa. Ingat sewaktu merangkak dulu, belajar berjalan sebelum berlari. Pasti jatuh, saat pertama, kedua dan ketiga atau bahkan untuk sekian kali.
Disinilah ku mulai belajar. Belajar 'membaca' mereka. Anak-anak manapun, akan senang sekali mencoba. Namun sayang, terkadang kita para orangtua, guru atau pendidik lainnya, yang membuat anak-anak berhenti berkarya. Sekecil apapun hasil yang didapat. Berapapun kualitas yang dicapai, haruslah kita yang menghargai dan memberi support. Cerdas bukan dilihat seberapa besar nilai yang didapat. Kecerdasan tak bisa pula diukur dengan banyaknya harta yang dikumpulkan.
*****
Saat perlombaan karya seni. Ku lihat seorang anak menangis. Menangis bukan karena hasilnya yang memukau para juri. Bukan pula karena dirinya kalah saat pengumuman. Dirinya menangis, seakan-akan ada tekanan. Tekanan yang mengharuskan dirinya juara dalam lomba. Tekanan saat dirinya harus menciptakan karya yang luarbiasa. Tekanan saat dirinya tak mampu mendengar kata-kata yang keluar dari bibir orangtuanya. Yang seakan-akan juara adalah kewajiban. Tangisnya pun pecah. Pecah saat perlombaan belum selesai. Lari, saat dirinya sukses dipermalukan. Berhenti, saat dirinya tak mampu lagi melanjutkan jika hasil tak sesuai harapan.
Itu hanyalah sekilas pembelajaran bagiku pribadi. Baper banget liatnya sampai lari keluar kelas meninggalkan karya yang tak sempat diselesaikan. Mari bunda, janganlah kita termakan emosi. Marilah kita gandeng buah hati. Bukan hanya menjadi juara semata, namun ajarkanlah rasa bangga dan penghargaan atas setiap kemampuan yang dimilinya. Kita adalah salah satu CiptaanNya. Dengan kemampuan yang berbeda-beda. Akan ada banyak kelebihan ataupun kekurangan. Semua sama. Adil dalam pandanganNya.
Mari kita tumbuhkan rasa syukur dalam hati masing-masing. Ajarkanlah kepada mereka arti menghargai diantara sesama๐. Ajarkanlah berlomba bukan untuk menjadi juara. Tapi berlomba untuk mengejar kebaikan. Setiap kebaikan yang kita lakukan akan membuahkan kebaikan lainnya.
Jika anak-anak tumbuh dalam kondisi krisis menghargai, maka mereka akan merasa tinggi hati. Tak mampu mengakui kehebatan orang lain. Dan tak akan sanggup merasakan jatuh dan berada di bawah. Sebaliknya, orang yang hidup dalam rasa penghargaan, akan dengan mudah mengakui kekalahan. Tak ada rasa sakit bahkan dendam kepada orang yang berada diatasnya.
Salam hormat,
Untuk kalian para ibu luarbiasa mendidik dengan cinta
By : ibu yang berproses menikmati segala kekurangan diri

Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini