Berubah atau Kalah

Tanggal 11 Mei 2018 tepat hari jum'at.
Beberapa hari lagi bulan yang penuh berkah akan datang ditengah-tengah kita. Jum'at kali ini akan jauh terasa berbeda dari hari jum'at yang akan datang. Karena insyaa alloh, jum'at kemudian sudah kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Dari tahun 2010 hingga di tahun 2018 ini pun....masih ku menjalani dengan sang kekasih hati. Beserta anak-anak kecil yang lucu nan menggemaskan. Haha....saking menggemaskannya selalu ada cerita setiap hari bersama mereka. Mulai dari marah-marahan, ngambek-ngambekkan, sampai berantem-beranteman...ehh ga ketinggalan pula, nangis-nangisan bergantian. Sebenernya sih, ya nangis beneran...tapi karena mereka masih meributkan hal sepele dan batas wajar kekanakan, maka ku sebut nangis-nangisan. Eh, setelahnya maaf-maafan. Nah, yang lebih seru berantem-beranteman, karena awalnya bermula sekedar bohong-bohongan, jadi deh .... mereka berantem beneran.

Emosi ??? Wuah, sudah pasti. Marah ? Udah sering keluar tapi bukan dari hati. Yang paling protes yaitu si bungsu, Muhammad Fakhri nama lengkapnya. "umi, sering marah-marah aja. Kata bu guru...marah itu dosa" begitu nada polosnya. Hihiy...sering senyum-senyum sendiri mendengar celotehannya. Langsung ku timpali, "dede fakhri juga bikin umi kesel dan marah itu dosa lho....". Langsung deh fakhri membalas nyengir gigi ompongnya. Disahut dengan ciuman gemesnya. Pipi kanan, pipi kiri, pipi kanan lagi, menandakan penuh sayang.

Usia pernikahan kami baru menginjak delapan tahun. Hihiy, baru seumur anak kelas 2 SD, masih amat sangat jauh kami harus merajut kisah kami di dunia ini. Menggapai mimpi hidup bersama membangun istana di syurgaNya. Alhamdulillaah, dengan kehendakNya, masih ditemani dengan tiga bocil lucu ini.

Pukul 16.30, ku setel audio ustadz Budhi Ashari. Ku dengarkan dengan penuh hayati. Nabi Muhammad dan Ibrahim adalah tauladan bagi ummat Islam, tidak perlu jauh-jauh lagi mencari-cari teladan dari sosok yang lain karena keduanya sudah dijaminkan dalam Al-Qur'an, bahwa beliau-beliau adalah teladan, begitu juga keluarganya. Pantaslah jika shalawat kepada kedua nabi diiringi dengan shalawat kepada keluarga beliau. Rangkuman ustadz Budi Ashari mulai setengah memenuhi notesku.

"Jika menginginkan keluarga yang mudah diajak untuk berjalan pada kebaikan maka jauhilah perbuatan-perbuatan syaitan didalam rumah, walau sekecil apapun walau biasa dilakukan kebanyakan orang-orang."

Ahh...diriku pun mulai mengevaluasi diri. Mencerna ucapan yang pak ustadz ungkapkan. Mencerna berbagai makna dari setiap maksud yang dituju. Terlebih, mengingat kembali sikapku di rumah yang bukan menjadi teladan bagi anak-anak. Memang benar,  dengan satu tindakan akan lebih baik daripada perkataan panjang. Itupun yang kualami dalam mendidik mereka. Jika aku masih asal-asalan meletakkan barang di rumah, maka anak-anak pun tidak akan merespon laranganku saat ku perintahkan untuk meletakkan sesuatu barang di tempatnya. Karena antara apa yang mereka lihat, ternyata tidak sesuai dengan yang mereka dengar.

Oiya, pernah pula suatu waktu, saat ku mencoba menyuruh teteh Alya untuk menghafalkan surah Al-Insyirah. Baaaanyaaaak banget alesannya. Hahaa....bilangnya ga bisa lah, susah lah, panjang lah dan lain sebagainya. Haha...akhirnya muncullah omelan dari uminya ini, nyamber aja kayak petir. Daaan ga berpengaruh juga tuh teuteup teteh Alya ga mau menghafal surah Al-Insyirah.

Akhirnya....di lain waktu, ku mencoba melantunkan surah Al-Insyirah dengan suara agak keras. Pikirku....walaupun teteh Alya tidak mau....tapi setidaknya sudah mendengarkan isi surahNya. Dan aku pun sempat kaget saat teteh Alya ternyata mengikuti tanpa disadari. Masyaa Alloh.... Sejak saat itu, untuk mengulang hafalan surah pendek teteh Alya hatus benar-benar diawali dari tindakan uminya. Bukan hanya sekedar peeintah suruhan.

Baiklah...kita coba lagi, membangun kedisiplinan diri sendiri. Mulai mempraktekkan kembali, hal-hal positif. Serta menumbuhkan ruh-ruh fitrah mereka yang sudah didominasi pergaulan lingkungan yang kurang baik. Pasti jalan ini tidak mudah. Butuh tangan tuk menggenggam. Butuh kekasih yang mendengarkan kelelahan. Bahwa kita hanyalah orangtua biasa yang kadang kalah dengan keadaan. Namun, pilihan hanya dua....mencoba Berubah atau kalah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2