Bagaimana Respon Bunda???




Para bunda semua....
Bagaimana jika si kecil melakukan hal seperti gambar diatas???. Menumpahkan Sari Kurma dari dalam botolnya ditambah menginjak-injak hingga bertambah luaslah daerah yang terkena kotoran. Hihiy...atau pernahkah bedak di rumah sampai habis tergeletak hingga tak bersisa??. Jawabannya pasti iya. Bagi para bunda yang memiliki anak kecil apalagi balita.

Suatu diskusi kami diperlihatkan contoh gambar diatas. Lalu, keluarlah pertanyaan dari sang guru, " Respon apa yang kita berikan kepada si anak?".
Sontak bermacam-macam peserta kulwap pun tertawa. Haha....pasti sedang membayangkan pula kejadian di masa lalu dengan anaknya.

Bermacam-macam jawaban dari para peserta. Ada yang bernada senang, ada yang bernada sedih. Mungkin dari 10peserta kulwap, hanya tiga yang merasakan sisi kesenangan itu. Menikmati aliran perkembangan dari masing-masing anaknya. Membersamai anak-anak apapun jenis aktivitas yang mereka lakukan. Itu adalah contoh dari bunda yang terlihat dengan nada senang.

Sedangkan bunda yang terlihat sedih, apakah ada yang tahu mengapa hal itu bisa terjadi??. Ya, betul. Pengalaman saat anak melakukan kesalahan, dan pasti ada yang mengganjal saat orangtua mengingatkan dengan  cara yang salah. Ternyata, 7 dari peserta kulwap mengalami masa-masa tersebut. Sehingga timbullah rasa penyesalan yang cukup meninggalkan luka.

Respon orangtua memang berbeda-beda. Tak jarang orangtua yang histeris saat melihat kejadian si anak menumpahkan bedak. Langsung membasuh kaki dan tangan anak yang kotor, kemudian pasti mengeluarkan omelan-omelan yang anak mungkin ga faham. "bunda lagi ngomong apa sih??", hehe....mungkin akan terlihat seakan-akan berbicara seperti itu dengan wajah polosnya. Langsung saja, si bunda tadi membereskan hasil karya anak. Mengepel dan merapihkan hingga bersih. Semua selesai. Masih tetap dengan omelan bunda yang masih menyangkut harga bedak yang dibelinya. Apakah hal itu membuat anak berhenti bermain bedak??. Tentu saja tidak. Karena memang itulah salah satu cara anak mengasah perkembangan motoriknya. Anak-anak akan lebih cenderung bermain pasir, tanah, bedak, kecap bahkan mungkin hal-hal yang merangsang dirinya untuk mencoba mempelajari hal tersebut. Namun justru, kebanyakan orangtua lebih memilih anak-anak untuk diam dan duduk anteng sambil bermain gadget ataupun menonton film kesukaannya. Terlebih orangtua yang tega sampai memukul anaknya hanya sekedar kesalahan kecil. Apakah bedak atau sari kurma akan kembali seperti semula sedia kala??, ya, betul. Jawabannya tentu saja tidak. Semua tidak akan kembali. Dan waktu serta kesempatan emas anak untuk mengasah perkembangannya pun tidak bisa kita ulangi.

Nah, sekarang. Bagaimana respon orangtua yang bijak dalam menyikapi kejadian tersebut??.

1. Berfikirlah positif dan kendalikan emosi
Hal yang dilakukan tahan lisan kita. Tahan dulu. Jangan dukeluarkan dulu. Lihat dan perhatikan sejenak. Kegembiraan anak-anak saat memainkan sari kurma tersebut. Lihatlah lebih dalam, ada sesuatu yang mereka rasakan berbeda ketimbang bermain gadget atau menonton televisi. Kotor? Pasti. Bahaya? Tidak juga, selama kita membersamai. Anak akan nyaman saat bunda melindungi dengan kasih sayang, bukan dengan omelan.

2. Ingatkan anak dengan cara yang baik
Jika anak menumpahkan bedak, katakan dengan kata yang positif. "hati-hati naak....bedaknya licin". Atau bisa juga "hayuuuk...duduk dengan bunda, biar tidak jatuh saat menginjak sari kurma". Sebisa mungkin ajak anak untuk menentukan cara agar dirinya aman sehingga tidak terjatuh saat bermain dengan sari kurma tadi. Bandingkan dengan kata-kata, "addduuuuhh...kamu gimana sih, acak-acakin bedak mamah, kamu ga tau apa belinya mahal harganya tiga puluh ribu...bla ...bla...bla...", sambil berbicara dengan nada tinggi. Nah, lebih enak mana untuk dilihat dan didengar. Lebih bijak mana sikap orangtua terhadap kesalahan anaknya. Silahkan bunda yang memilih kata-kata yang nyaman di hati masing-masing.

3. Mengajak anak untuk merapihkan
Setelah anak terlihat sudah bosan, maka segera mungkin ajak dirinya untuk ikut membereskan atau merapihkan hasil karyanya sendiri. Sekali lagi, libatkan anak dalam hal ini. Karena akan membuat sejalan dengan perkembangan di masa-nya. "nak, yuk...kita ambil kain untuk lap sari kurmanya". Atau " sapu ada dimana yah? Bantu bunda bersihkan bedak-bedaknya yah..." masih dengan nada tenang. Pernah seketika, ketiga anakku merendam beberapa kertas dalam ember. Sampai disitu, aku masih sebisa mungkin membiarkan mereka memainkannya di kamar mandi. Eh...tak lama kemudian, kertas tersebut ditupahkan hingga menyumbat lubang pembuangan air. Hihiy...darisitu langsung emosi tak dikendalikan. Mengeluarkan omelan dengan nada yang tinggi, langsubg tanpa basa basi menyuruh anak untuk membereskannya sendiri. Selepas itu, langsung ku merenungkan kejadian ini, apakah caranya sudah benar?? Apa yang kulakukan belum dalam penyampaian yang tepat??. Nah, dari kesalahan-kesalahan tersebut, mulai disadari, betapa fakirnya ilmu dalam diri ini. Sehingga perlu banyak belajar dan belajar lagi, agar mampu menjadi bunda hebat seperti tauladan kita terdahulu.

Yuuk...sama-sama kita belajar dan belajar. Jangan sampai puas dengan ilmu yang kini kita miliki. Karena sesungguhnya masih banyak yang harus kita benahi dalam mendidik generasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2