Asyiknya Belajar Bersama
Di hari pertama dan kedua saat ujian berlangsung, alhamdulillah berjalan dengan lancar. Anak-anak pun tertib mengerjakan soal USBN. Aku dan salah satu temanku, mendapat giliran menjadi pengawas ujian di salah satu sekolah yang tidak terlalu jauh dari tempat kami mengajar. Tapi tetap jauh dari tempat tinggalku yang berlokasi di cibeber.
Ada hal-hal yang membuatku menarik saat mengawas mereka. Lingkungan sekolah yang bersih dan asri membuat kesan yang begitu melekat. Pantas saja banyak orangtua yang tertarik menyekolahkan anak mereka disini, walaupun dengan rupiah yang ga murah, gumamku dalam hati.
Tak hanya bersih dan asri, keramahan serta kedekatan antar guru dan murid pun terlihat sangat akrab. Jadwal rolling pengawas dalam tiga hari di setiap kelas yang berbeda. Kami mendapat bagian di ruang VI. Saat memasuki kelaspun, tertata rapi dan nuansa belajar yang terkesan menyenangkan. Bisa dibayangkan betapa menyenangkannya memiliki nuansa belajar seperti itu.
Goresan cat dan tinta di latar tembok yang membentuk pohon. Di masing-masing daunnya, kulihat terdapat tulisan-tulisan asmaul husna. Ahh..mengingatkanku akan proyek dengan teteh alya dan si kembar yang belum terlaksana. Hehe...aku berencana membuatkan Asmaul Husna dari karton atau kertas origami agar anak-anakpun bisa senantiasa mengingat bahkan menghafal ke 99 nama baik Allah SWT. Aku dan anak-anak seringakali merencanakan jadwal belajar kami di rumah. Berbagai gambar yang sering ku lihat via you tube, ku praktekkan untuk mengajarkan anak-anak di rumah. Semenjak mengikuti matrikulasi, kesadaran mendidik baru muncul. Walaupun terlambat bagiku. Sebisa mungkin aku meng-upgrade diri untuk tetap istiqomah menimba ilmu dalam hal urusan mendidik. Karena hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Semangat itupun lagi-lagi membara.
Tak kalah menarik juga bingkai-bingkai buatan mengelilingi maaing-masing foto siswa yang tersusun rapih. Bisa jadi proyek dirumah juga, tapi bisa diganti dengan gambar-gambar pesawat kesukaan si kembar. Mereka bersemangat sekali untuk menggambar.
Satu per satu kulihat kondisi kelas yang enak dipandang. Portofolio para siswa berbaris menggantung di bawah papan tulis. Masing-masing nama tertempel di map. Banyak sekali nama-nama unik dan panjang. Arsip-arsip siswa diletakkan di rak gantung bagian atas. Tak kalah menarik, bagian Pojok baca yang tersedia. Ada tulisan mengukir yang menghias ditembok. Ada juga berbagai macam buku berbagai judul. Pojok baca merupakan salah satu gerakan nasional, agar minat baca para siswa meningkat. Dan ilmu pun bisa didapatkan dari membaca.
Teringat lagi kelasku dirumah, masih minim dengan buku bacaan. Kebanyakan buku di rumah sudah sobek dan tidak tertata. Bisa jadi proyek baru lagi, fikirku. Menata buku-buku yang belum rapih.
Alhamdulillah, setiap moment bisa kita jadikan pelajaran. Mengubah cara berfikir dan cara kita dalam mendidik baik dirumah maupun di sekolah. Bagus juga jika celengan dari hasil uang yang ditabung, kita ajarkan untuk membeli buku. Mungkin bisa meluruskan pola fikir anak-anak dalam mengelola uang. Bahwa uang yang kita miliki bukan untuk sekedar berfoya-foya membelikan jajanan yang kurang bermanfaat, apalagi membeli mainan yang cepat rusak. Melalui jerih payah yang mereka kumpulkan juga, mungkin anak-anak akan bisa lebih menghargai buku-buku yang dibeli sendiri. Bulan lalu, si kembar merengek minta pensil warna. Seperti biasa pensil warna yang lalu sudah menghilang berpencar entah kemana. Alhasil, aku pun mengambil celengan hasil yang mereka kumpulkan.
"untuk apa umi celengannya?" tanya fahmi sambil terheran-heran
"untuk dibuka dan uangnya kita beli pensil warna aja yah" jawabku sambil meminta persetujuan untuk membuka celengan.
"hooreeee...." keduanya bersorak riang. Ada kesepakatan juga diantara aku dan anak-anak, bahwa setelah pensil warna dibeli, mereka harus menjaga dan merawat pensil warna tersebut dengan sebaik mungkin. Alhamdulillah, hingga kini si pensil warna masih tetap utuh terjaga. Sebagai orangtua, Hal yang kecil pun harus tetap kita ajarkan sedini mungkin. Agar kelak mereka akan faham, makna dari kehidupan ini.
#odopsesi2
#odopfor99days2018
Ada hal-hal yang membuatku menarik saat mengawas mereka. Lingkungan sekolah yang bersih dan asri membuat kesan yang begitu melekat. Pantas saja banyak orangtua yang tertarik menyekolahkan anak mereka disini, walaupun dengan rupiah yang ga murah, gumamku dalam hati.
Tak hanya bersih dan asri, keramahan serta kedekatan antar guru dan murid pun terlihat sangat akrab. Jadwal rolling pengawas dalam tiga hari di setiap kelas yang berbeda. Kami mendapat bagian di ruang VI. Saat memasuki kelaspun, tertata rapi dan nuansa belajar yang terkesan menyenangkan. Bisa dibayangkan betapa menyenangkannya memiliki nuansa belajar seperti itu.
Goresan cat dan tinta di latar tembok yang membentuk pohon. Di masing-masing daunnya, kulihat terdapat tulisan-tulisan asmaul husna. Ahh..mengingatkanku akan proyek dengan teteh alya dan si kembar yang belum terlaksana. Hehe...aku berencana membuatkan Asmaul Husna dari karton atau kertas origami agar anak-anakpun bisa senantiasa mengingat bahkan menghafal ke 99 nama baik Allah SWT. Aku dan anak-anak seringakali merencanakan jadwal belajar kami di rumah. Berbagai gambar yang sering ku lihat via you tube, ku praktekkan untuk mengajarkan anak-anak di rumah. Semenjak mengikuti matrikulasi, kesadaran mendidik baru muncul. Walaupun terlambat bagiku. Sebisa mungkin aku meng-upgrade diri untuk tetap istiqomah menimba ilmu dalam hal urusan mendidik. Karena hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Semangat itupun lagi-lagi membara.
Tak kalah menarik juga bingkai-bingkai buatan mengelilingi maaing-masing foto siswa yang tersusun rapih. Bisa jadi proyek dirumah juga, tapi bisa diganti dengan gambar-gambar pesawat kesukaan si kembar. Mereka bersemangat sekali untuk menggambar.
Satu per satu kulihat kondisi kelas yang enak dipandang. Portofolio para siswa berbaris menggantung di bawah papan tulis. Masing-masing nama tertempel di map. Banyak sekali nama-nama unik dan panjang. Arsip-arsip siswa diletakkan di rak gantung bagian atas. Tak kalah menarik, bagian Pojok baca yang tersedia. Ada tulisan mengukir yang menghias ditembok. Ada juga berbagai macam buku berbagai judul. Pojok baca merupakan salah satu gerakan nasional, agar minat baca para siswa meningkat. Dan ilmu pun bisa didapatkan dari membaca.
Teringat lagi kelasku dirumah, masih minim dengan buku bacaan. Kebanyakan buku di rumah sudah sobek dan tidak tertata. Bisa jadi proyek baru lagi, fikirku. Menata buku-buku yang belum rapih.
Alhamdulillah, setiap moment bisa kita jadikan pelajaran. Mengubah cara berfikir dan cara kita dalam mendidik baik dirumah maupun di sekolah. Bagus juga jika celengan dari hasil uang yang ditabung, kita ajarkan untuk membeli buku. Mungkin bisa meluruskan pola fikir anak-anak dalam mengelola uang. Bahwa uang yang kita miliki bukan untuk sekedar berfoya-foya membelikan jajanan yang kurang bermanfaat, apalagi membeli mainan yang cepat rusak. Melalui jerih payah yang mereka kumpulkan juga, mungkin anak-anak akan bisa lebih menghargai buku-buku yang dibeli sendiri. Bulan lalu, si kembar merengek minta pensil warna. Seperti biasa pensil warna yang lalu sudah menghilang berpencar entah kemana. Alhasil, aku pun mengambil celengan hasil yang mereka kumpulkan.
"untuk apa umi celengannya?" tanya fahmi sambil terheran-heran
"untuk dibuka dan uangnya kita beli pensil warna aja yah" jawabku sambil meminta persetujuan untuk membuka celengan.
"hooreeee...." keduanya bersorak riang. Ada kesepakatan juga diantara aku dan anak-anak, bahwa setelah pensil warna dibeli, mereka harus menjaga dan merawat pensil warna tersebut dengan sebaik mungkin. Alhamdulillah, hingga kini si pensil warna masih tetap utuh terjaga. Sebagai orangtua, Hal yang kecil pun harus tetap kita ajarkan sedini mungkin. Agar kelak mereka akan faham, makna dari kehidupan ini.
#odopsesi2
#odopfor99days2018
Komentar
Posting Komentar
Silahkan kirim saran untuk tulisan ini