Antara pilihan

Pukul 13.45 aku sudah tiba di rumah. Sepulang dari sekolah. Turun dari sepeda motor yang dikendarai suamiku, dan diiringi dengan sambutan hangat dari si kembar yang keluar langsung dari balik pintu. Terlihat rindu saat kepergianku. Langsung ku sapa dengan salam.
"Assalamu'alaikum..."
Mencium punggung tanganku secara bergantian. Biasanya kalau aa Fahmi senyum-senyum paati ada saja yang ingin diceritakannya.
"Umi....umi...tadi aa bisa obeh sendiri"
Nah, ternyata betul kan, aa Fahmi pasti langsung cerita, tanpa menungguku masuk ke dalam rumah. Obeh artinya cebok dalam bahasa kami. Atau bisa diartikan membersihkan kotoran di bagian belakang jika sudah buang air besar.
"wuah... Alhamdulillah... Aa Fahmi udah bisa sendiri", sebisa mungkin menunjukkan kekagumanku kepadanya. Agar lain kali, bisa lebih semangat lagi membersihkan diri sendiri tanpa harus dibantu oleh ART yang menjaga.

Hampir lima tahun lamanya, ku memiliki ART. Usianya sudah cukup tua. Tapi masih bisa beberes rumah dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dengan sangat baik.
Masih ingat dibenakku, dibulan agustus lima tahun yang lalu. Saat Fahmi dan Fakhri berusia lima bulan. Saat mereka sudah mulai mengerti ingin digendong. Saat mereka mengerti ingin mendapat susu yang sama. Saat mereka mengerti jika tak ada orang disekitarnya.

Lelahku saat keduanya menangis bersama. Kucoba gendong keduanya. Berhasil diam. Tapi membuat pundak kiriku terasa sangat sakit karena terlalu banyak beban. Umur 2-3bulan...masih bisa kugendong secara bersamaan. Tapi menginjak usia lima bulan, rasanya benar-benar membuat aku kelelahan.

Terkadang jika sudah tak sanggup ku menggendong keduanya, kubiarkan salah satu menangis. Aku hanya bisa menatapi, ikut meneteskan airmata, saat ku pasrah tak berdaya. Sangat jelas tangisan itu, saat puasa bulan Ramadhan sedang kami jalani. Suamiku sedang pergi bekerja shift siang hari, dan dipastikan malam hari baru sampai di rumah.

Saat itu, aku masih menjadi Full Time Mother. Sepenuhnya ku ikhlaskan gelar sarjanaku, untuk menjaga dan merawat anak-anakku. Namun, takdir berkata lain. Tangisan si kembar semakin lama semakin menjadi. Seakan-akan kasih sayang tak ingin dibagi. Kami diskusikan bersama, keputusan menggunakan ART pilihan terakhir.

Uang pun seadanya. Dengan pendapatan bulanan yang hanya mencukupi kebutuhan, kami dengan modal nekat menyewa jasa ART yang menginap. Dari lubuk hati, tak ingin rasanya memiliki ART. Karena seringkali kami dengar beberapa dampak negatif dari orang - orang kebanyakan. Ingin sekali rasanya mengurus semua ini sendiri. Lagi-lagi, inginku itu bukanlah sesuatu yang terbaik untuk anak-anak. Beberapa kali ku ganti ART, karena tidak adanya kecocokkan antara kami.

ART yang baru pun tak terlihat meyakinkan. Kakinya yang setengah pincang. Awalnya tidak ingin kuterima. Karena tak ada pilihan, ku coba beberapa bulan. Alhamdulillaah..pekerjaan rumah terselesaikan dan Fahmi Fakhri pun tak berebut minta di gendong berdua. Saat malam, Fakhri tidur bersamaku, sedangkan Fahmi tidur bersama bi Minah.

Jasa yang ku bayar untuk bi Minah pun tidak besar. Merasa kasihan, tentu saja. Namun sudah menjadi kesepakatan bersama antara kami. Pekerjaan tertentu kukerjakan sendiri. Bi Minah hanya fokus pada si kembar jika keduanya rewel dan meminta susu. Memiliki ART bukanlah impian kami. Apabila si kembar sudah agak besar. Akan ku berhentikan bi Minah untuk mencari rumah lainnya. Lagi-lagi takdir berkata lain. Hidup hanyalah soal memilih. Memilih apa yang menjadi pilihan kita. Memilih apa yang menjadi prioritas kita. Tepat beberapa bulan kemudian, entah mengapa pekerjaan seakan-akan menjadi pilihan terakhirku. Prinsip meneguhkan pendirian sebagai Ibu Rumah Tangga, tiba-tiba luluh tak tertata rapih.

Aku pun diterima, setahun kemudian. Antara perasaan senang dan sedih. Senang saat akhirnya tesku berhasil masuk kategori. Namun sedih saatku terpaksa meninggalkan ketiga anakku. Namun pilihan tetaplah pilihan. Pilihan kami yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, tanpa mengesampingkan kewajiban sebagai istri sekaligus tiga anak yang masih kecil. Tidak terlalu mendesak untukku bekerja saat itu. Hanya kesempatan yang jika ku melepaskannya begitu saja. Ahh...jika saja aku lebih dahulu mengenal IIP ini daripada pekerjaan. Bisa menguatkanku untuk menjadi Ibu Rumah Tangga sejati.

Pilihan tetaplah pilihan. Harus ada niat kuat saat kita harus menentukan pilihan tersebut. Harus ada beberapa alasan yang membuat kita memilih jalan yang harus ditempuh. Bukan hanya sekedar pilihan yang menurutkan keinginan apalagi hawa nafsu. Penyelasan diperlukan. Walau datang di akhir. Tak perlu berlebihan. Cukup untuk menjadikan diri lebih baik lagi dan bijak dalam menentukan pilihan.

Komentar

  1. Do'akan yah mba eka....smg tulisannya bisa jauh lebih baik lagi...hihiy

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan kirim saran untuk tulisan ini

Postingan populer dari blog ini

Ahh....Yang Sering Terlupakan

Tayo .... Hei Tayo ....

Tentang Dia#2